Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Kekayaan Terbesar

Banyak orang mulai merasa kelelahan hidup. Hidup terasa begitu menyengat. Target – target begitu menghentak. Harapan – harapan banyak yang kandas. Lepas. Pagi buta terbangun, bergegas berangkat ke kantor, pulang malam dalam larut kepenatan dan kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di kulit. Kemudian suatu saat mereka jeda dan bertanya dalam diri: untuk apa hidup ini?Objek maupun subjek yang dikejar dalam hidup ini memang beragam. Ada yang mengejar kekayaan, ada juga yang berorientasi mencari kepopuleran. Yang penting keren. Beken. Ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya.

Dan tentu saja, itu semua menjadi hak setiap orang untuk memilih jalur bagi dirinya sendiri. Syah dan boleh – boleh saja. Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan, baik kekayaan luar maupun dalam. Jadi pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan pintas. Yang penting asal cepat jadi kaya.
Pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Maklum, nggak ada orang yang mau hidup susah. Penginnya enak terus. Terbukti dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Pun dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih nlisir di lorong - lorong kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi. Semua bisa, namun seorang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan sederhana menjadi kaya: contentment is the greatest wealth. Rasa cukup adalah kekayaan terbesar. Tentu agak unik mendengarnya. Apalagi di zaman yang penuh dengan hiruk - pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira miring atau dituduh gila sekalian. Akan tetapi inilah sebenarnya interpretasi sabda Rasulullah SAW; Sesungguhnya yang dikatakan kaya itu bukan banyaknya harta, akan tetapi yang disebut kaya adalah kaya diri (hati). (Rowahu Muslim)

Ada yang mengira, yang demikian itu menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai anti kemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Hanya saja, bagi setiap penekun kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur "cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Tengoklah sabda Rasulullah SAW, “Anak Adam berkata ini hartaku, hartaku. Padahal tidak ada harta baginya kecuali tiga hal yaitu apa yang dia makan dan habis, yang dia pakai dan rusak serta yang dia berikan dan menghasilkan pahala. Selain yang demikian itu, maka akan hilang dan ditinggalkan bagi manusia lainnya.” (HR Muslim).

Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup. Nrimo ing pandum. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk islam, diberi rizki cukup dan Allah menjadikan qona’ah (menerima/merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan.” (Rowahu Muslim). Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semuanya, manusia mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti inilah, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai dan bahagia. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, terpatri, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke jaring - jaring kehidupan. Rasulullah SAW bersabda; “Sungguh beruntung, orang yang mujhid (bekerja giat) dan muzhid (hemat).(Al Hadist).
Para pinisepuh sering mengajarkan hidup berputar laksana roda. Dan setiap pencarian kekayaan ke luar – menjauhi roda - yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia terguncang ketakutan di pinggir roda. Namun jika mencari ke dalam - di titik pusatnya, maka tidak ada putaran sama sekali. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk mencoba dan melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini. Menuju ke titik pusat roda kehidupan.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Itulah idaman setiap orang. Hal ini bisa ditemukan pada orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di sisi lain. Bila orang-orang seperti ini mampu berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar dan mengagumkan di dalam. Biasa tampak luarnya, sederhana perilakunya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang lain dan sekelilingnya. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah. Kata-kata pujian dan makian ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup yang mendalam seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) disertai rasa cukup yang mendalam dan rasa syukur yang berlimpah, ditemukan kehidupan penuh daya guna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain. Mari temukan dan daya gunakan..!

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah

READ MORE - Kekayaan Terbesar

Mengambil Contoh

Pada suatu waktu, saya menerima sebuah email dari kawan lama. Terharu rasanya, sebab lama tak jumpa. Tapi begitu membacanya saya terkejut. Bersungut, sebab emailnya berisikan complain atas tulisan saya. Isinya kira – kira protes dengan keras, kenapa kok dalam tulisan itu saya mengambil contoh dari non islam? Kenapa tidak mengambil contoh dari para sahabat, tabiin atau orang – orang faqih islam lainnya? Apakah tidak ada lagi yang bisa dijadikan contoh dari islam? Padahal banyak tauladan yang bisa diambil. Begitu sanggahnya.

Lama saya tercenung mengoreksi diri. Apakah ada yang salah dengan tulisan – tulisan itu? Apakah tidak boleh mengambil contoh dari non muslim? Atau apakah ada yang berubah dengan kawan ini? Beberapa pertanyaan pun menggelayut. Kemudian sebelum saya memberikan respon, sahabat lainnya memberikan jawaban atas protes kawan tersebut. Sahabat ini mengatakan bahwa memang saat ini susah kita menemukan tokoh islam yang mendunia. Bisa dijadikan panutan, diakui kredibilitas dan eksistensinya. Sebab kebanyakan tokoh islam sekarang malah dicap teroris, dan dimata – matai gerak – geriknya oleh orang islam sendiri.

Dari sahabat ini, kemudian saya memberanikan diri menimpali. Saya sampaikan bahkan Allah pun dengan gamblang menjadikan Firaun, Namrud dan orang – orang kafir lainnya sebagai tamsil di dalam al-quran. Kenapa kita tidak boleh mengambil contoh dari non muslim?

Sepenggal kalimat yang saya kirim, tak disangka mendapat respon balik yang begitu cepat dan tajam dari kawan lama ini. Seperti api. Dia berkilah, bahwa Allah menyajikan Firaun cs di dalam al-Quran adalah sebagai bandingan agar kita tidak mengikuti tingkah lakunya. Beda dengan apa yang ditulisan itu seolah kita harus menirunya. Padahal dia bukan orang islam.

Di sinilah saya baru tersadar dan menemukan ujung pangkal kesalahpahaman itu. Seperti biasa, saya sudahi perdebatan ini, biar tidak berlarut dan berpanjang kali lebar, dengan permintaan maaf yang tulus dan mendalam. Akhirnya menutup perbedaan ini dengan: case closed.

Kebaikan itu bersifat universal, sehingga di manapun ia berada siapa pun berhak meniru dan mengambilnya. Seperti Bunda Theresia di Calcutta India, yang sangat perhatian dengan fakir miskin dan anak – anak terlantar sehingga mengantarkan dia mendapat anugerah nobel karenanya. Pada tulisan saya yang mengambil contoh dengannya adalah berupa ajakan bagaimana kita bisa mengolah hati dan rasa kasih sayang kita terhadap sesama. Tidak mengajak menjadi seperti dia atau beragama seperti dia. Melainkan, ayo tingkatkan kepedulian kita kepada sesama. Tidak hanya kepada orang seiman saja tetapi kepada semua makhluk Allah yang ada di sekitar kita. Hiasilah keimanan dan hidayah pada diri ini dengan akhlak mulia. Kalau orang lain bisa, kenapa kita yang menyebut diri sebagai kekasih Allah tidak bisa melakukannya? Seharusnya malu, bukan malah menyalahkan contohnya.

Sebab Allah sendiri pun memberikan teladan yang jelas, dimana seorang pelacur yang hanya memberi minum dengan sepatunya seekor anjing yang melet – melet kehausan, akhirnya ia masuk surga. Bukankah yang demikian itu jelas? Contoh itu bukan mengajak menjadi pelacur bukan? Akan tetapi menunjukkan bahwa berbuat baik kapan saja, dimana saja selalu bernilai dan berharga di mata Allah dan akan dibalas dengan yang lebih baik. Sebab Allah Maha Syukur. Dan kita bisa mengambil kebaikan itu dengan bentuk rasa sayang terhadap binatang, tidak menganiayanya, memeliharanya dalam bentuk berpasangan, memberinya makan dan tidak menyiksanya.

Pada kasus lain seperti jabat tangan, Nabi SAW pun memberikan suri tauladan yang jelas. Karena baik, maka diadoplah berjabat tangan sebagai ritual ketika seorang muslim ketemu maupun berpisah, melengkapi ucapan salam yang mendahuluinya. Kelakuan baik itu diambil dari Ahli Yaman, bukan asli islam. Sedangkan laku penghormatan dengan sujud Nabi menolaknya. Sebab mudhorotnya lebih banyak.

Memang benar, masih banyak contoh baik yang bisa diambil dari kalangan islam sendiri, baik dari Nabi SAW, para sahabat, tabiin dan ulama salaf lainnya. Tapi ada kurangnya ketika mengambil contoh dari kalangan sendiri. Selain contoh itu jauh di awang – awang, kurang up date, actual dan kekinian, bantingannya juga kurang menggelegar. tonjokannya kurang mantap. Bahkan terkesan biasa. Inilah sasaran bidikannya. Namun jika diambilkan contoh dari luar kalangan biasanya tersulut dan berkobar gairah kita untuk meraihnya. Itu bagi yang sadar, bagi yang seperti kawan lama saya itu bisa jadi malah petaka. Kalau tidak tersinggung, pastilah apatis dibuatnya. Kawan ini lupa sebuah dalil dalam hadits Bukhori, dimana Nabi SAW menyatakan ‘Aslamta alaa maa salafa min khoirin – Kamu islam sebab kebaikan kamu yang telah lewat.”

Kebaikan itu bukan hanya milik orang iman saja, orang lain pun bisa memilikinya. Siapa pun berhak mengerjakan kebaikan. Dan kepada Allahlah kita serahkan segalanya. “Maka barangsiapa yang berbuat kejelekan seberat dzarroh/atom (sekecil apapun) Allah akan melihatnya. Dan barangsiapa yang berbuat kebaikan seberat dzarroh/atom Allah juga melihatnya.” (QS az-Zalzalah 7-8). Jadi, jangan alergi ketika mendapati orang lain berbuat baik, terlebih dari luar kalangan. Kalau memang baik, tidak melanggar syariat, dan dimampukan untuk mengamalkannya, kenapa tidak? Sebab Allah Yang Maha Menghukumi. Bukan kita makhluk bumi ini.

oleh: Ustadz Fami


Sumber : OFFICIAL LDII WEBSITE

READ MORE - Mengambil Contoh